Beberapa bulan setelah wisuda, Imron Rivaldi merasa seperti orang yang baru saja kehilangan arah. Dulu, saat masih kuliah, hari-hari terasa penuh. Ada tugas, ada deadline, ada rapat organisasi, ada janji nongkrong dengan teman. Semuanya membuat hidup terasa berarti, meski seringkali melelahkan.
Tapi sekarang? Gelar sarjana sudah di tangan. Punya waktu luang seabrek, tapi bingung mau diisi apa. Akhirnya, hari demi hari hanya dihabiskan dengan scroll TikTok, buka tutup aplikasi yang sama, sampai mata perih dan hati semakin bosan.
Suatu siang, di tengah kebiasaan buruk itu, Imron menemukan satu video yang membuatnya terperanjat. Video pendek dari seorang ustaz muda, tampan, dan bicaranya santai tapi menusuk. Hook-nya langsung mengena: “Kapan terakhir kali kamu membaca Al-Qur’an?”
Hanya kalimat itu saja sudah cukup membuat Imron seperti ditampar keras. Ia pause video sebentar, menatap layar ponsel dengan dada berdegup. Pikirannya melayang ke arah waktu kapan terakhir kali dirinya membaca Al-Quran.
Ustaz itu melanjutkan. Ia bercerita tentang masa kecil kita–waktu masih kecil, setelah salat Maghrib atau Subuh, kita selalu mengaji. Bacanya terbata-bata, kadang salah tajwid, tapi tetap saja dilakukan dengan rajin. Bahkan bisa khatam berkali-kali.
“Kini, kita sudah dewasa, bacaan sudah lancar, tapi Al-Qur’an justru seperti ditinggalkan di rak paling atas, berdebu, sendirian, kesepian,” terang Sang Ustaz, kemudian dilanjutkan, “Komentar di bawah,” katanya sambil tersenyum, “kapan terakhir kali kamu baca Al-Qur’an?”
Imron tidak berkomentar. Tapi video itu seperti membuka luka lama yang Imron sendiri tidak sadar ada. Siang itu juga, Imron memutuskan tuk sudah saatnya kembali. Imron ingin membaca Al-Qur’an lagi, seperti dulu.
Masalahnya, mushaf Al-Qur’an keluarga ada di meja ruang tengah, tempat berkumpulnya semua orang. Bapak, Ibu, sepupu, semua sering lewat sana. Ini jadi masalah karena Imron sendiri merasa malu untuk memboyong Al-Quran ke kamarnya.
Imron kemudian mengintip dari celah pintu kamar. Sepi. Tak ada siapa-siapa. Dengan hati berdebar, Imron berlari kecil, terbirit-birit seperti maling, mengambil mushaf itu, lalu cepat-cepat kembali ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.
Mushaf itu milik Bapak Imron, Engkus Sanusi. Tebal, sampul hijau tua, sudah agak usang tapi terawat. Imron duduk di kasur, membuka halaman pertama, dan mulai membaca pelan-pelan. Huruf demi huruf, ayat demi ayat. Suara Imron agak keras, karena ingin benar-benar menghayati. Rasanya lega, seperti bertemu kembali dengan sahabat masa kecil.
Tapi tak lama kemudian, dari luar kamar terdengar suara Bapak.
“Bu, Al-Qur’an Bapak di mana ya?”
Bu Iis Komalasari menjawab dari dapur, “Itu kan biasanya di meja tengah, Pak.”
“Gak ada, Bu. Tadi Bapak cari, kosong.”
Ada jeda sejenak. Lalu Ibu berkata dengan nada setengah bercanda, “Wah, demi apa, ada yang nyuri Al-Qur’an kita?”
Bapak tertawa kecil, “Gatau harus bersyukur apa mengumpat.”
“Mungkin dibawa si Imron, Pak.”
“Ah, mana mungkin. Seharian cuma bisa molor sama main HP doang.”
Imron di dalam kamar mendengar semuanya. Jantung Imron berdegup lebih kencang dari tadi. Bukan karena takut ketahuan mencuri—tapi entah kenapa, Imron malu sekali kalau sampai ketahuan sedang baca Al-Qur’an.
Tak lama, pintu kamar diketuk pelan.
“Mron, lagi di dalam?”
Imron kaget. Itu suara Ibu. Dengan panik, Imron buru-buru menyembunyikan mushaf itu di bawah bantal. Napas tersengal. “Masuk, Bu. Ada apa?”
Pintu terbuka. Ibu masuk, menatap Imron dengan ekspresi biasa saja. “Kamu lagi apa sih, kok lama banget buka pintunya.”
“Anu, lagi tiduran aja, Bu. Ada apa emang?”
“Itu si Bapak lagi nyari Al-Qur’an. Kamu tahu gak di mana?”
Imron menelan ludah. Otak Imron berputar cepat mencari alasan. Tapi yang keluar dari mulut hanya diam. Imron tahu persis di mana mushaf itu—di bawah bantal, tepat di belakangnya. Tapi Imron tidak bisa bilang. Malu. Entah malu karena apa. Malu karena selama ini jarang baca, malu karena takut dianggap sok alim, atau malu karena takut dipuji—Imron sendiri tidak paham.
Akhirnya Imron hanya geleng kepala pelan. “Gak tahu, Bu.”
Imron duduk terdiam di kasur, menatap mushaf yang tersembunyi itu. Berbuat baik kok bisa malu ya? Tanyanya dalam hati.
Imron memutuskan keluar rumah. Ia berjalan kaki menuju rumah Moyo Tantular—teman sekaligus guru spiritualnya yang selalu jadi tempat curhat terbaik anak-anak kampung. Rumah Moyo memang tempat tongkrongan favorit: teras luas, angin sepoi, dan selalu ada teh hangat.
Begitu sampai, Imron langsung duduk di kursi anyaman dan menghela napas panjang.
Moyo yang sedang menyeduh kopi menoleh, “Kenapa mukamu kusut banget, Mron?”
Imron pun menceritakan semuanya: video ustaz, rasa tertampar, mencuri Al-Qur’an seperti maling, sampai kejadian sembunyi-sembunyi dari ibu sendiri. “Jadi… kenapa bisa malu gitu ya, Moy? Padahal kan baca Al-Qur’an itu baik banget.”
Moyo tersenyum kecil, meletakkan cangkir kopi di depan Imron. “Itu karena kita gak terbiasa, Mron. Simpelnya gitu.”
“Maksudnya gimana?”
“Coba pikir. Biasanya kita ngapain tiap hari? Scroll medsos sampe tengah malam, nonton series gak jelas sampe lupa waktu, main game sampe subuh. Hal-hal baik kayak ngaji, tahajud, atau sekadar baca doa sebelum tidur—jarang banget kita lakukan.”
“Oh… jadi karena gak biasa gitu?”
“Bener. Makanya pas kita coba lagi, rasanya aneh. Kayak ada yang salah sama diri kita sendiri. Kayak tindakan yang gak cocok sama ‘Imron yang biasanya’.”
“Benar sih. Kayak anomali di hidup kita gitu.”
“Tepat banget. Makanya malu, takut orang lain notice perubahan itu. Takut dikomentarin, takut dianggap sok berubah, atau takut dianggap cuma ikut-ikutan tren agamis,” kata Moyo, kemudian melanjutkan, “Rasa malu itu justru tanda baik, Mron. Artinya hati kita masih hidup. Kalau sudah mati rasa, kita bahkan gak akan peduli lagi sama Al-Qur’an.”
Kata-kata Moyo seperti angin segar yang menyapu kekusutan di hati Imron. Rasa bersalah yang tadinya menekan kini berubah jadi motivasi. Setelah curhat panjang lebar, Imron merasa dadanya lebih ringan. Ada semangat yang tiba-tiba membuncah. Ia menoleh ke Moyo dengan mata berbinar.
“Yuk, Moy. Kita salat Dhuha bareng sekarang. Biar niat baik ini langsung jalan.”
Moyo yang sedang menyeruput kopi langsung tersedak kecil. Ia mengernyitkan dahi, memandang Imron seperti orang gila. “Mron… jadi orang saleh juga harus pinter dikit dong.”
“Lah, emang kenapa?”
“Ini jam dua siang, bro!!!”
muhammadiyah.or.id
EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!